Skip to content

Berbohong dengan Statistik

1 April 2009

sampul-berbohong-dengan-statistik1Ada tiga macam kebohongan: ngibul, bohong, dan statistik. Benjamin Disraeli (1804-1881)

“Tujuh dari sepuluh wanita Indonesia memakai Laurier” bunyi sebuah iklan di tivi. “70% masyarakat Sulsel siap mendukung saya” kata seorang cagub dari Sulsel, dan “Setiap hari terjadi 20 kasus pembunuhan di Indonesia” tulis sebuah surat kabar nasional. Semua informasi yang baru saja anda baca ini diakui oleh sumber masing-masing sebagai hasil pengukuran statistik.

Buku yang dibahas kali ini mirip panduan bagaimana menggunakan statistik untuk mengelabui. Karena para penipu telah mahir menerapkan berbagai trik di dalam buku ini, orang-orang jujur seperti anda layak membacanya untuk membela diri.

Statistik telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Kemampuan statistik menampilkan persoalan yang kompleks dalam wujud angka telah menjadikannya metode yang berdayaguna untuk menentukan pilihan. Mulai urusan belanja keluarga, menentukan merk cat tembok, susu formula untuk bayi, hingga urusan pemilihan Presiden seringkali menjadikan angka statistik sebagai bahan acuan utama.

Walaupun demikian statistik bisa membuat fakta tampak berbeda, jika disusun dengan cara yang keliru, jumlah sampel tidak memadai, ataupun keduanya. Di penghujung tahun 2001 – saya mengutip data dalam buku ini – terjadi kecelakaan kereta api beruntun. Sebuah majalah nasional terkemuka dengan rinci mengulasnya dalam berlembar-lembar kolom investigasi berjudul “Maut Mengintai di Jalur Besi”. Sangat seram! Itu belum seberapa. Keterangan selanjutnya:

Frekuensi kecelakaan kereta api yang terjadi sepanjang 2001 mencapai 72 kasus. Kalau dirata-rata, berarti setiap lima hari sekali terjadi satu kecelakaan. Angka rata-rata itu makin menyeramkan pada tahun-tahun sebelumnya: nyaris terjadi satu kecelakaan tiap dua hari sekali.

Ternyata bepergian dengan kereta api sangat berbahaya! Tapi benarkah demikian? Bisa jadi, tetapi bisa juga tidak. (menurut penerjemah, lima hari sebelum naskah ini dicetak, 26 april 2002, tak satupun kecelakaan kereta api terjadi). Data yang dikumpulkan wartawan majalah itu mungkin benar, yaitu bahwa pada 2001 terjadi 72 kecelakaan. Tapi benarkah demikian kesimpulannya?

Rata-rata kecelakaan sebenarnya akan lebih menggambarkan keadaan di lapangan seandainya dibandingkan dengan jumlah perjalanan atau panjang perjalanan itu sendiri, bukan dengan jumlah hari dalam setahun. Tidak jelas apakah kekeliruan ini disengaja oleh si penulis agar timbul kesan menyeramkan, tetapi statistik semacam itu bukanlah barang baru, sebagaimana diperlihatkan contoh-contoh dalam buku ini.

How to Lie With Statistics pertama kali terbit pada 1954 dan direvisi pada 1973. Tidak heran, contoh-contoh di dalamnya sebagian berasal dari berbagai surat kabar atau majalah terbitan sebelum 1954 hingga 1973. Beberapa data memang telah kadaluarsa, tetapi tidak demikian dengan peringatan yang terkandung didalamnya. Itulah sebabnya buku ini tergolong klasik dan dipuji oleh banyak ahli statistik. Jika anda mengetikkan “How to Lie With Statistics” pada mesin pencari Google, anda akan menjumpai 518.000 link yang mengulas buku klasik ini.

Di edisi bahasa Indonesia ini, penerjemah menambahkan beberapa catatan kaki pada beberapa kasus yang dirasa kurang populer untuk pembaca di Indonesia agar konteks persoalan menjadi lebih jelas.

Judul : Berbohong dengan Statistik ( terj. How to Lie with Statistics)

Pengarang : Darrel Huff dan Irving Geiss © 1954

Alih bahasa : J. Soetikno PR. & Christina M. Udiani

Terbitan : Kepustakaan Populer Gramedia, Cetakan kedua: Agustus 2003

Volume : xv + 167 hlm.; 13 cm X 19 cm.

6 Komentar leave one →
  1. 1 April 2009 9:35 am

    statistik pun butuh sentuhan orang-orang yang punya kearifan dan moral yang bagus, mas fikar. kalau sampai jatuh ke tangan orang2 yang berhati jahat, bisa2 data2 dalam statitisk jadi sarat manipulasi meski tampak tersusun secara runtut dan sistematis.

  2. 2 April 2009 12:49 am

    benar pak sawali. statistik ibarat pedang, jadi bukan bentuk pedangnya atau ketajaman pedangnya yang menjadi persoalan tetapi siapa yang memegang pedang dan apa tujuannya..makasih atas komentar Bapak.

  3. 14 April 2009 2:12 pm

    statistik itu seperti pisau, bisa membantu tapi juga bisa disalahgunakan untuk kepentingan tertentu…

  4. Fuji permalink
    27 Januari 2010 7:02 pm

    Bagaimana cara download buku ini ?

  5. efi permalink
    23 Oktober 2012 11:35 pm

    dimana bisa mendapatkan buku ini?
    saya sudah mencari di toko buku online yang ada, perpustakaan, tapi tidak ketemu.

Trackbacks

  1. Riset Literatur, Mencari Buku Pake Google | Catatan Sulfikar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: