Skip to content

Saya belajar komunikasi, karena saya bukan kucing

29 Desember 2009

Komunikasi itu penting. Demikian jawab saya setiap ada yang bertanya “Sul, kenapa kamu belajar komunikasi?”.  Jawaban yang sama saya lontarkan pertama kali ketika memutuskan untuk pindah dari Fakultas Ekonomi UNHAS ke Jurusan Komunikasi FISIP UNHAS (tahun 2001), – bukan berarti belajar ekonomi tidak penting lho’ tapi ada sisi menarik dari Ilmu Komunikasi, lagipula sarjana ekonomi sudah banyak bertebaran dimana-mana – Tapi respon yang saya peroleh hampir sama persis, mulai dari teman-teman saya yang sekolahnya “Tinggi” sampai sahabat saya yang kini jadi tukang ojek. Sambutan mereka kurang lebih begini; Mengapa kita harus susah payah mempelajari sesuatu yang kita lakukan setiap hari? Kita juga toh tidak mempelajari bagaimana cara berjalan atau cara makan atau cara  tidur, perilaku rutin yang kita lakukan sepanjang waktu. Komunikasi adalah hal yang alami, sambung mereka. Kucing juga berkomunikasi dan tidak ada yang mengajari, sahut yang lain. – yang terakhir ini aneh, saya bahas manusia dia bahas kucing –


Terbiasa berkomunikasi sebenarnya belum berarti memahami komunikasi. Menurut Porter dan Samovar, memahami komunikasi manusia berarti memahami apa yang terjadi selama komunikasi berlangsung, mengapa itu terjadi, akibat-akibat apa yang terjadi, dan akhirnya apa yang dapat kita perbuat untuk mempengaruhi dan memaksimumkan hasil-hasil dari kejadian tersebut.

Terdapat bukti bahwa kekeliruan dalam menerjemahkan pesan yang  dikirimkan pemerintah Jepang menjelang akhir Perang Dunia II boleh jadi telah memicu pengeboman kota Hiroshima. Kata mokusatsu yang digunakan Jepang dalam merespon ultimatum AS untuk menyerah tanpa syarat diterjemahkan oleh Domei (kantor berita Jepang di Tokyo) sebagai “mengabaikan”, padahal maknanya adalah “jangan memberi komentar sampai keputusan diambil”.

Versi lain mengatakan, Jenderal Mc Arthur yang menjabat sebagai Panglima Sekutu memerintahkan stafnya untuk mencari arti dan makna kata itu. Semua kamus bahasa Jepang – Inggris yang diperiksa menerjemahkannya sebagai No Comment. Mc Arthur kemudian melapor kepada Presiden Harry Truman bahwa Jepang cuek bebek dalam menanggapi ultimatum AS. Maka hancur leburlah Hiroshima dan Nagasaki di hantam bom atom!. Padahal arti kata mokusatsu itu adalah “Kami akan menaati ultimatum Tuan tanpa komentar”.

Ada lagi cerita yang lain, sebuah pesawat skuadron tempur AL AS membuat kontrak dengan sebuah pabrik mesin Jepang untuk membuat sebuah alat penopang bagi salah satu roda pesawat. Penopang yang asli mengalami retak di salah satu ujungnya, dengan retakan lurus setipis rambut. Orang-orang Amerika itu menekankan pentingnya mengganti penopang itu dengan tiruan yang sempurna. Ketika mereka kembali untuk mengambil penopang yang baru, mereka memperoleh tepat apa yang mereka minta – suatu tiruan yang sempurna, lengkap dengan keretakannya! Ahli-ahli mesin Jepang itu merasa bangga akan hasil kerja mereka dan menyatakan bahwa hal yang paling sulit mereka tiru adalah keretakan itu. Wkwkwkwkw…

Dua cerita di atas menunjukkan bahwa ternyata komunikasi tidak semudah yang kita duga. Kegagalan memahami pesan verbal dalam cerita pertama bahkan mengakibatkan bencana dahsyat sepanjang sejarah. Memang banyak orang menganggap komunikasi itu mudah dilakukan, semudah bernafas karena kita biasa melakukannya sejak lahir. Karena kesan enteng itulah tidak mengherankan bila sebagian orang enggan mempelajari bidang ini. Berikut beberapa kekeliruan tentang komunikasi;

  • Tidak ada yang sukar tentang komunikasi. Komunikasi adalah kemampuan alamiah; setiap orang mengetahui apa komunikasi itu dan mampu melakukannya.
  • Keterampilan berkomunikasi adalah bakat, sifat bawaan, bukan diperoleh karena usaha atau pendidikan.
  • Saya berbicara, karena itu dengan sendirinya saya berkomunikasi. (Mengatakan sesuatu baru langkah pertama komunikasi yang ditafsirkan orang berdasarkan pengalaman orang tersebut)
  • Komunikasi hanya terjadi jika saya menghendakinya.
  • Komunikasi adalah proses verbal semata.
  • Makna terdapat pada kata-kata.
  • Komunikasi adalah solusi untuk semua masalah. (ini “penyakit” yang biasa diidap oleh mahasiswa komunikasi).
  • Kita membutuhkan lebih banyak komunikasi. (idem).

Lalu, bagaimana sebenarnya komunikasi itu? Jelaskan secara lengkap, detail, kalau perlu dengan teori-teori pendukungnya, agar kekeliruan di atas bisa diluruskan.

Sabar mas, orang sabar disayang istri. Tunggu saja postingan selanjutnya🙂

“ Saya belajar komunikasi, karena saya bukan kucing!”

5 Komentar leave one →
  1. 29 Desember 2009 9:30 pm

    sudah ndak sabar nih…😀

  2. achmad sulfikar permalink
    2 Januari 2010 10:02 am

    berarti Zulham tidak di sayang istri :p

  3. inong, saya juga pingin tahu cepat lanjutannya oc! permalink
    5 Januari 2010 2:36 pm

    @achmad sulfikar

  4. 24 Mei 2011 8:55 am

    komunikasi itu kadang suatu hal yang mudah dan sesuatu hal yang susah. musah karena untuk dikatakan berkomunikasi, semua aktifitas yang kita lakukan baik yang sengaja ataupun yang tidak sengaja bisa dikatakan sebagai komunikasi. tapi kesusahannya adalah menyamakan persepsi antara kita dengan orang lain. tujuan komunikasinya yang salah satunya adalah untuk menyamakan persepsi itu merupakan sebuah permasalahan tersendiri dan kadang banyak orang yang tidak menyadarinya

Trackbacks

  1. Pesan dalam proses komunikasi | Sulfikar's blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: