Skip to content

Presiden dan Kerbau

5 Februari 2010

Kerbau melenguh, manusia mengeluh. Lagi-lagi SBY mengeluh. Bukan hal yang tidak lazim bagi Presiden RI ke-6 ini mengeluh di hadapan rakyatnya. Kali ini seekor kerbau menjadi pemicu keluhan sang penguasa negeri. Kerbau yang turut meramaikan demonstrasi seratus hari pemerintahan SBY-Boediono ini dikeluhkan karena di anggap menghina Presiden, di punggung binatang tersebut tertulis huruf besar Si BuYa.  Sosok kerbau yang satu ini saya yakin pasti anda sudah tahu.

Satu hal yang menjadi menarik untuk jadi perhatian kita adalah sikap SBY yang sangat impulsif terhadap demonstrasi dan isu-isu. SBY sangat gampang untuk mengeluh di balik rasa kesal – yang selalu gagal untuk di tutup-tutupi. Pemimpin dikritik adalah hal yang wajar. Bagaimanapun bentuk kritik itu.

Pemimpin yang besar hendaklah tahan terhadap gelombang kritik. Toh orang tua kita sering mengatakan “Semakin tinggi pohon, akan semakin kencang angin menggoyang-goyangkannya”. Banyak pekerjaan besar yang harus dikerjakan oleh seorang pemimpin negara ketimbang mengomentari seekor kerbau. Idealnya yang harus menjadi perhatian adalah mengapa rakyat berdemo? Mengapa kerbau Si BuYa harus turun ke jalan?

Ada kesalahan berpikir/fallacy yang di alami oleh SBY dan orang-orang disekitarnya; seperti yang dikatakan oleh Alfian Mallarangeng (seorang Doktor Sosiologi yang diangkat menjadi Menteri Olahraga), “yang demo itu kan bukan mewakili rakyat Indonesia, hanya segelintir orang yang memang tidak memilih SBY waktu pemilu yang lalu” katanya, “seharusnya mereka bersabar lima tahun lagi, jangan coba-coba menjatuhkan presiden dengan cara turun ke jalan” sambungnya.

Sangat aneh jika seorang lulusan dari universitas di Amerika mengeluarkan pernyataan seperti ini. Mari sedikit berlogika: Saya tidak memilih si A ketika Pilpres, kemudian si A terpilih menjadi Presiden, sebagai rakyat saya harus tetap memenuhi kewajiban saya, membayar pajak misalnya. Artinya, saya tetap rakyat dan warganegara RI siapapun presidennya. Tidak peduli apakah saya memilihnya atau tidak. Presiden tidak bekerja hanya untuk orang yang memilihnya tetapi untuk semua rakyatnya, yang memilih, tidak memilih, bahkan golput sekalipun.

Alfian Mallarangeng (doktor sosiologi yang diangkat menjadi Menteri Olahraga) juga lupa bahwa Orde Baru runtuh akibat “ketidaksabaran” rakyat Indonesia terhadap kemandekan dan penindasan. Dia lupa bahwa dia bisa melenggang ke posisi seperti sekarang ini akibat reformasi yang dilakukan dengan turun ke jalan.

Sekali lagi demonstrasi dan kritik adalah sebuah sentilan untuk mengingatkan pemimpin agar tetap berjalan di jalur yang benar dalam menjalankan amanah rakyat. Sungguh tidak lucu seorang pemimpin negara yang berpenduduk 250 juta orang lebih merasa tidak nyaman hanya karena seekor kerbau.

6 Komentar leave one →
  1. 7 Februari 2010 8:10 pm

    mengena banget mas! hehe…
    saya coba berpikir dari sudut pandang yang lain.
    gimana ya kalau kita “kehilangan” sosok SBY?
    Seperti ketika Gus Dur meninggal barulah kita “ngeh” akan jasa2nya.

  2. 7 Februari 2010 11:40 pm

    ulasan juragan mengena banget. keep posting.
    ada sebab ada akibat, memang korban dari semua ini tetap rakyat.

  3. achmad sulfikar permalink
    9 Februari 2010 10:31 am

    @ Andaka: Tiap orang dilahirkan dengan kekurangan dan kelebihan, begitu juga pemimpin. Tapi pemimpin yang baik juga harus memahami hal ini sehingga dapat menerima kritik secara lebih terbuka. tentang Gus Dur, saya ingat kalimat bijak dari Khalil Gibran; “kita baru sadar akan arti seseorang saat dia meninggalkan kita”

  4. fifi permalink
    13 Februari 2010 11:21 pm

    ya tapi kalau demonya seperti itu namanya tdk sopan. kalau saya jd presiden wkt itu, sya juga pasti akn tdk nyaman, begitu pula bila Anda dalam posisi yang sama…

    demo yg benar tuh gmn c?

  5. Lex permalink
    14 Februari 2010 10:41 am

    gimana mas kalo saya saran bahwa dalam demo…..demo…..dan demo lagi sebaiknya dalam koridor tata cara ketimuran aja, bukankah kita ini punya toto kromo yang diwariskan nenek moyang kita, dan bukan menggunakan modelnya di negara seberang sono. Social Control tetap kita lakukan, tapi mbok ya kalo ngritik Pemerintah/SBY dengan model/cara2 yang bisa membuat orang luar negeri justru belajar sama kita, bukan dengan mencontoh model/cara2 yang sudah dilakukan orang seberang sejak puluhan tahun yang lalu. Model dan Tata Cara Demo juga perlu dilakukan PEMBAHARUAN ala Indonesia. OK.

Trackbacks

  1. Teori Kegunaan dan Kepuasan | Catatan Sulfikar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: