Skip to content

Saya masih belajar menulis

11 Juni 2010

Dua hari yang lalu saya menulis artikel di kompasiana yang berjudul Video Ariel-Luna Asli Palsu?! Case Closed!. Tanpa saya duga artikel tersebut sempat menjadi yang terpopuler, bahkan menjadi headlines di homepage Kompasiana untuk beberapa jam. Bangga? Sempat juga sih, tapi untuk beberapa menit saja lalu rasa bangga itu kemudian jadi biasa-biasa saja. Toh saya pada dasarnya menulis bukan untuk terkenal. Saya selalu menulis sekadar melepaskan uneg-uneg atau unjuk perasaan saja. Apalagi di bandingkan dengan Kompasianer yang sudah lama malang melintang di Kompasiana ini artikel saya itu tidak ada apa-apanya. Pembacanya juga tidak lebih dari 500 orang, tidak heran siang harinya artikel tersebut terdepak keluar dari zona elit tersebut.

Yang menarik bagi saya adalah komentar dari salah satu Kompasianer yang menanyakan/protes kepada saya; katanya “Heran sekali saya, tulisan kayak gini kok bisa jadi headline.. … Oke bung, saran saya kalo sebelum nulis mikir dulu lah bung. Mikir dikit aja, gak susah juga kan”. Saya kemudian bingung sendiri. Orang ini kok nanya soal headlines kok ke saya? Bukan ke admin? Bukankah soal itu hak prerogatif admin? Tentunya admin punya standar dalam mengkategorisasi tulisan yang layak untuk ditempatkan di headlines. Saya pernah bertanya kepada Bung ASA ketika beliau berkunjung ke rumah saya (kebetulan beliau satu kampung dengan saya). Menurut bung ASA itu memang hak admin.

Menurut saya, apapun yang kita lakukan dalam hidup ini (makan, minum, bekerja, hingga nge-blog) haruslah di sertai dengan prinsip yang kita pegang teguh. Prinsip ini yang akan mewarnai segala tingkah pola dan tutur kita. Dalam menulis (baca; ngeblog) saya memiliki prinsip menulis untuk berbagi dan berharap umpan balik yang bermanfaat. Menulis untuk popularitas? no..no.. menjadi Pria Terpopuler di mata istri saya jauh lebih membahagiakan bagi saya. Selain untuk berbagi menulis bagi saya adalah sarana pelepasan. Pelepasan ide, keresahan, serta uneg-uneg yang menurut beberapa psikolog sangat baik untuk kesehatan otak.

Jika memang menurut sahabat Kompasianer tulisan-tulisan saya tidak layak konsumsi, itu juga tidak masalah. Memang saya menulis untuk diri saya sendiri kok. Seperti yang saya baca di buku Mengikat Makna Update. Menulis adalah sarana untuk bercengkrama dengan diri kita sendiri, berdebat dengan sosok yang tidak kita kenali yang ada dalam diri kita sendiri. Menulis menjadikan kita paham diri kita, suatu hal yang sangat penting sebelum kita memahami orang lain.

Akhirnya saya ingin mengutip sebuah kalimat yang menarik dari buku mengikat makna di atas:

Anda tidak usah terlalu memikirkan masalah tata bahasa, ejaan ataupun struktur kalimat ketika menulis. Anda juga harus berusaha untuk membebaskan diri anda. Terserah kepada anda untuk menulis apa saja yang anda inginkan. Yang penting, anda merasa nyaman dan tekanan anda hilang ketika menulis.

Jadi, tulisan ini tidak usah ditempatkan di headline, please… saya masih belajar menulis.

11 Komentar leave one →
  1. Go Hyuuga permalink
    12 Juni 2010 8:34 pm

    Saya suka dengan kata kutipan di akhir. Menurut saya, sebagai seorang penulis memang harus seperti itu. Walau kadang kata “bebas” tidak bisa kita artikan sebebas kita., masih ada aturan yg mesti kita jaga. Ini kunjungan pertama saya, dari bawah ke atas…rasanya seoerti menonton atau membaca berita namun dari sudut pandang Anda tentunya.

    Saya juga pernah menulis seperti ini, dan kemudian inbox saya dipenuhi dengan berbagai macam komentar. Ada yang suka…ada yg biasa saja tapi tidak sedikit juga yang terkesan tidak suka, bahkan ada yang menghina tulisan saya sebagai sampah. Sempat merasa shock dengan hinaan, tapi kemudian sy berpikir…siapa mereka ? Mereka hanyalah penikmat…belum tentu mereka bisa menulis dan berkarya seperti saya. Semua orang berhak atas pemikirannya, begitupula dengan saya yang “bebas” dengan tulisan saya….Dan mungkin inilah yang disebut “bumbu” tanpa bumbu tulisan pun tidak akan ada rasa dan kesannya. Bukan begitu ?

    Trima kasih sudah meninggalkan alamat blog ini di Wall Facebook saudara Zulham ^^ v

    • achmad sulfikar permalink
      12 Juni 2010 10:34 pm

      “Mereka hanyalah penikmat…belum tentu mereka bisa menulis dan berkarya seperti saya. Semua orang berhak atas pemikirannya, begitupula dengan saya yang “bebas” dengan tulisan saya….”🙂 makasih ya’

  2. 14 Juni 2010 8:28 pm

    salam kenal… belum sempat baca tulisanta ttng luna maya…
    nice posting…
    salam sesama anak luwu…saya di lutim bos…

  3. 19 Juni 2010 9:15 am

    Wahhh orang seperti begitu mungkin kena penyakit hati… iri hati!

  4. 14 Oktober 2010 7:11 am

    Sebenarnya resep bagi orang yang tidak suka itu gampang… jangan dibaca! :mrgreen:
    Tapi, jangan suruh para penulis untuk berhenti menulis atau membatasi kami-lah… karena itu sama saja mencekik kami…
    Salam kenal juga Mas Sulfikar. 100% setuju dengan anda!

    • achmad sulfikar permalink
      14 Oktober 2010 8:57 am

      wah, berhenti menulis rasanya mencekik ya? hehehe…😛

  5. 14 Oktober 2010 11:31 am

    salam kenal ya ..

    kebetulan sya dulu mau’x buat website sulfikar.com
    terxata anda lebih duLu menggunakan sulfikar.com

    mampir ke bLog saya http://bemakpema.co.cc

  6. 14 Maret 2011 10:22 am

    Bagus… tulisan ini bagus sekali… banyak pelajaran yang bisa saya dapatkan… dan saya sangat berterima kasih dan beruntung membaca tulisan ini…
    apalagi kutipan ini…
    “Anda tidak usah terlalu memikirkan masalah tata bahasa, ejaan ataupun struktur kalimat ketika menulis. Anda juga harus berusaha untuk membebaskan diri anda. Terserah kepada anda untuk menulis apa saja yang anda inginkan. Yang penting, anda merasa nyaman dan tekanan anda hilang ketika menulis.”

    sangat memotivasi dalam belajar menulis…
    salam

    • achmad sulfikar permalink
      22 Maret 2011 10:12 am

      salam kenal juga Kang, terima kasih telah berkunjung

  7. 22 Desember 2011 3:45 am

    write everything you think..

Trackbacks

  1. Cara hebat mengatasi kebuntuan menulis | Sulfikar's blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: