Skip to content

Menguak rahasia pencitraan dengan Teori Dramaturgi

27 Juni 2011

Pencitraan politik yang dilakukan Presiden SBY ternyata tidak lagi menjadi senjata pamungkas dalam meraih simpati rakyat. Hasil survey LSI baru-baru ini menjadi salah satu pembuktian premis tersebut. Lalu apa sebenarnya pencitraan itu? dan bagaimana cara kerja pencitraan tersebut berlangsung? Salah satu yang bisa menjawab pertanyaan ini secara tepat dan ilmiah adalah dengan menggunakan Teori Dramaturgi.

Dalam buku monumentalnya yang berjudul The Presentation of Everyday Life (1959), Erving Goffman pertamakali memperkenalkan tentang dramaturgi, sebuah teori dasar tentang bagaimana individu tampil di dunia sosial. Menurut Prof. Deddy Mulyana, perspektif dramaturgi sebenarnya merupakan salah satu model pendekatan interaksi simbolik selain teori penjulukan dan etnometodologi. Melalui pendekatannya terhadap interaksi sosial, Goffman dianggap sebagai penafsir ‘teori diri’ Herbert Mead (tentang teori Herbert Mead saya sudah menulisnya di sini) dengan penekanannya  pada sifat simbolik dari manusia. Goffman sangat memperhatikan analisis interaksi manusia, ia menganggap individu sebagai satuan analisis. Untuk menjelaskan tindakan manusia, Erving Goffman memakai analogi drama dan teater.

Goffman memusatkan perhatiannya pada interaksi tatap muka atau kehadiran bersama (co-presence). Goffman menyatakan bahwa individu dapat dapat menyajikan suatu “pertunjukan” apapun bagi orang lain, namun kesan (impression) yang diperoleh orang banyak terhadap pertunjukan itu bisa berbeda-beda. Seseorang bisa sangat yakin terhadap pertunjukan yang diperlihatkan kepadanya, tetapi bisa juga bersikap sebaliknya. Dengan menggunakan perumpamaan pertunjukan teater, Goffman membagi dua wilayah kehidupan sosial:

  1. Front Region (wilayah depan), adalah tempat atau peristiwa sosial yang memungkinkan individu menampilkan peran formal atau berperan layaknya seorang aktor. Wilayah ini juga disebut front stage (panggung depan) yang ditonton oleh khalayak. Panggung depan mencakup, setting, personal front (penampilan diri), expressive equipment (peralatan untuk mengekspresikan diri), kemudian terbagi lagi menjadi appearance (penampilan) dan manner (gaya).
  2. Back Region (wilayah belakang), adalah tempat untuk individu mempersiapkan perannya di wilayah depan, biasa juga disebut back stage (panggung belakang) atau kamar rias untuk mempersiapkan diri atau berlatih untuk memainkan perannya di panggung depan. Di tempat ini dilakukan semua kegiatan yang tersembunyi untuk melengkapi keberhasilan akting atau penampilan diri yang ada pada panggung depan.

Di panggung depan para pemain berkesempatan menciptakan image terhadap penampilannya yang skenarionya telah diatur dan sangat berbeda dengan apa yang ada di panggung belakang.

Fokus pendekatan dramaturgis adalah bukan apa yang orang lakukan, bukan apa yang ingin mereka lakukan, atau mengapa mereka melakukan, melainkan bagaimana mereka melakukannya. Berdasarkan pandangan Kenneth Burke bahwa pemahaman yang layak atas perilaku manusia harus bersandar pada tindakan, dramaturgi menekankan dimensi ekspresif/impresif aktivitas manusia. Burke melihat tindakan sebagai konsep dasar dalam dramatisme. Burke memberikan pengertian yang berbeda antara aksi dan gerakan. Aksi terdiri dari tingkah laku yang disengaja dan mempunyai maksud, gerakan adalah perilaku yang mengandung makna dan tidak bertujuan. Masih menurut Burke bahwa seseorang dapat melambangkan simbol-simbol. Seseorang dapat berbicara tentang ucapan-ucapan atau menulis tentang kata-kata, maka bahasa berfungsi sebagai kendaraan untuk aksi. Karena adanya kebutuhan sosial masyarakat untuk bekerja sama dalam aksi-aksi mereka, bahasapun membentuk perilaku.

Dramaturgi menekankan dimensi ekspresif/impresif aktivitas manusia, yakni bahwa makna kegiatan manusia terdapat dalam cara mereka mengekspresikan diri dalam interaksi dengan orang lain yang juga ekspresif. Oleh karena perilaku manusia bersifat ekspresif inilah maka perilaku manusia bersifat dramatik. Pendekatan dramaturgis Goffman berintikan pandangan bahwa ketika manusia berinteraksi dengan sesamanya, ia ingin mengelola pesan yang ia harapkan tumbuh pada orang lain terhadapnya. Untuk itu, setiap orang melakukan pertunjukan bagi orang lain. Kaum dramaturgis memandang manusia sebagai aktor-aktor di atas panggung metaforis yang sedang memainkan peran-peran mereka. (bersambung…)

(Tulisan ini adalah bagian dari Tesis saya yang berjudul “Politik Pencitraan SBY; Analisis framing blog kompasiana Wisnu Nugroho tentang komunikasi politik Presiden SBY”)

Referensi:

  • Goffman, Erving, 1959. The Presentation of Self in Everyday Life. Doubleday Anchor, Garden City, New York.
  • Littlejohn, Stephen W., 1996. Theories of Human Communication. 5th Edition, Wadsworth, Belmont California.
  • Mulyana, Deddy dan Solatun, (ed.), 2007. Metode Penelitian Komunikasi; Contoh-contoh Penelitian Kualitatif dengan Pendekatan Praktis. Remaja Rosdakarya, Bandung.
  • Mulyana, Deddy, 2004. Komunikasi Populer; Kajian Komunikasi dan Budaya Kontemporer. Remaja Rosdakarya, Bandung.
  • ———————-, 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif; Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Remaja Rosdakarya, Bandung.
  • Ritzer, George, 2004. Teori Sosiologi. Cetakan Kelima. Kreasi Wacana Offset, Bantul.


4 Komentar leave one →
  1. 22 Juli 2011 6:03 pm

    terima kasih atas informasinya…
    keren+paten…
    mampir ya,,,

  2. 16 Agustus 2011 11:29 pm

    panjang sekali bah…😯

  3. amanda permalink
    9 Agustus 2012 1:05 am

    kalo mau cari buku yang kusus tentang teori dramaturgi erving goffman dimna ya? susah sekali mencarinya..
    moho informasinya..terima kasih

  4. amanda permalink
    9 Agustus 2012 1:08 am

    kalo mau cari buku yang kusus tentang teori dramaturgi erving goffman dimna ya? susah sekali mencarinya..
    mohon informasinya..terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: