Skip to content

Agenda Media dalam Komunikasi Massa

28 Desember 2011

Ketika suatu komunitas membicarakan masalah-masalah yang berkaitan dengan politik,  maka peranan media massa tidak dapat diabaikan. Sebagai media pesan politik, media massa mampu mempengaruhi pembentukan struktur sosial maupun partisipasi masyarakat untuk menciptakan sistem politik yang lebih demokratis. Peranan ini menempatkan media massa  sebagai saluran komunikasi politik.

Sanders dan Kaid (1978) melalukan review atas beberapa penelitian komunikasi politik dan menyimpulkan bahwa :

Aspek politik dari media komunikasi massa  cukup penting untuk dipahami karena secara faktual aspek-aspek tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari media massa itu sendiri. Media massa sebagai kekuatan keempat diakui memiliki kemampuan untuk mempengaruhi khalayak.

Dalam konteks komunikasi politik, penelaahan yang terperinci mengenai potensi yang dimiliki  media komunikasi massa (sebagai salah satu cerminan aspek politik yang melekat pada dirinya) perlu dilakukan.

Kekuatan media menurut Gurevitch dan Blumler bersumber pada tiga hal yakni struktural, psikologis dan bersifat normatif . Akar struktural kekuatan media massa bagi para politisi, ukuran dan komposisinya tidak akan diperoleh pada jenis media lain, dalam memperoleh  jumlah besar khalayak.

Secara historis pun, meningkatnya peran media massa dalam politik antara lain terletak pada pelibatan khalayak sampai pada tingkat tertentu, yang umumnya telah berhasil mengatasi hambatan yang sebelumnya dihadapi: misalnya, rendahnya tingkat pendidikan, dan tipisnya minat pada politik. Sedangkan akar pada psikologis dari kekuatan media bersumber pada hubungan kepercayaan (credibility) dan keyakinan yang berhasil diperoleh (dengan tingkat berbeda) oleh orang dari anggota khalayaknya masing-masing. Media massa memiliki instrumen teknologi yang independen, yang produknya dapat menjangkau ke tengah-tengah masyarakat dalam jumlah yang besar.

Ada pertentangan di kalangan para ahli mengenai pengaruh mana yang lebih besar antara surat kabar dan televisi pada agenda setting. Beberapa studi menunjukkan bahwa surat kabar ternyata lebih penting dalam agenda setting.

Indikasi lain menunjukkan bahwa surat kabar hanya pada tahap awal, selanjutnya televisi yang berperan besar. Sebuah ulasan menyajikan bahwa televisi memiliki pengaruh yang bisa dipertimbangkan, sedangkan di pihak lainnya mengemukakan pandangan bahwa banyak kasus di surat kabar dijadikan sebagai agenda.

Ada beberapa sifat dari masing-masing media tersebut. Pada media massa cetak, pesan umumnya dapat didokumentasikan. Pada televisi, ada beberapa kelebihan yang tidak terdapat pada media cetak. Informasi yang disajikan lewat televisi menjadi lebih hidup dengan adanya visualisasi lewat penayangan gambar-gambar hidup dan bergerak. Yang hampir dapat disamakan  adalah bahwa apa yang kita baca di surat kabar maupun yang kita saksikan di televisi, tak lebih merupakan realitas kedua (second hand reality). Ini berarti bahwa apa yang kita dapatkan dari media merupakan hasil pengolahan atas realitas yang sesungguhnya.

McLuhan menyebutkan bahwa media merupakan perpanjangan dari alat indera kita. Khususnya dalam surat kabar dapat dipertegas terjadinya proses gatekeeping yang berusaha menyeleksi berita atau informasi yang disajikan kepada khalayak. Sedangkan khalayak memperoleh informasi tersebut semata-mata berdasarkan apa yang ada di media tersebut.

Dalam konteks ini, media massa mempengaruhi persepsi khalayak. Dalam surat kabar, agenda media  berkaitan dengan agenda masyarakat (public agenda). Agenda publik dapat saja diketahui dari pertanyaan tentang apa yang masyarakat pikirkan, apa yang dibicarakan dengan orang lain, dan apa yang mereka anggap sebagai masalah yang menarik perhatian masyarakat (community saliance).

Media massa turut berperan dalam proses sosialisasi dari satu generasi ke generasi berikutnya. McQuail juga mengatakan bahwa institusi media menyelenggarakan produksi, reproduksi dan distribusi pengetahuan yakni dalam artian serangkaian simbol mengenai pengalaman kehidupan sosial.

Dalam melihat fungsi penyebaran dari media maka akan ditelaah mengenai pengaruh dan dampak dari media massa pada khalayaknya. Besar kecilnya pengaruh dan dampak dari media massa dapat diamati berdasarkan besar kecilnya ketergantungan terhadap media tersebut.

Berdasarkan teori ketergantungan media dari DeFleur dan Ball Rokeach, media adalah suatu sub sistem di dalam suatu sistem yang lebih besar yang saling berinteraksi. Jenis hubungan yang terjadi yaitu antara sistem sosial, sistem media, dan khalayak dapat kooperatrif atau kompetitif dan dapat berubah atau tetap).

Respons yang timbul pada khalayak akibat adanya stimuli dari sistem media, dapat berupa perubahan pengetahuan, sikap atau tingkah laku. Semula akibat proses komunikasi, dalam hal ini media massa, diduga dapat mempengaruhi khalayak secara langsung. Ini yang sering disebut sebagai hyphodermic needle yang menganggap bahwa setiap pesan yang disebarkan akan secara langsung dan segera mendapat respon dari penerimanya. Hal ini mulai diperkenalkan oleh Lazarsfeld melalui konsepnya two step flow of communication, yakni bahwa penyebaran inovasi tidak secara langsung dari media massa pada individu-individu, tetapi terlebih dulu diterima oleh “pemuka pendapat” dan disampaikan kepada anggota kelompoknya .

Implikasinya adalah bahwa peran media tidak dapat secara langsung mengubah tingkah laku khalayak. Menurut Schramm, media massa hanya dapat menumbuhkan kesadaran dan pengetahuan, sedangkan komunikasi interpersonal dianggap efektif dalam mengubah tingkah laku. Oleh karena terpaan-terpaan tersebut sangat mempengaruhi pembentukan pengetahuan, sikap dan tingkah laku (knowledge, attitude, dan practice).

Sementara Atkin, mencatat bahwa kriteria sosialisasi dikategorikan ke dalam dimensi-dimensi kognitif, afektif dan behavioral. Secara khusus efek kognitif mencakup kesadaran dan pengetahuan yang diperoleh dari isi media berita. Efek afektif mencakup tingkat evaluasi mengenai aktor politik, lembaga-lembaga, kepentingan dalam masalah publik. Efek behavioral mencakup kegiatan komunikasi antarpersona  mengenai materi politik, partisipasi dalam kampanye maupun pemilihan umum.

Dari hasil evaluasi beberapa penelitian yang berhubungan dengan efek kognitif, Atkin, menyimpulkan bahwa media massa menghasilkan dampak yang penting pada aspek kognitif. Sedangkan pada efek afektif, media massa secara signifikan mempengaruhi orientasi afektif, walaupun dampaknya tidak sebesar orientasi kognitif. Variabel-variabel yang biasanya banyak dipengaruhi oleh exposure berita adalah interest, sikap terhadap pemimpin, pendapat tentang isu-isu, identifikasi pada partai, yang kesemuanya itu sulit untuk diubah.

Seperti apa yang dikemukakan Atkin, informasi dari media massa mempengaruhi  perubahan kognisi, hal ini berarti perubahan tingkat pengetahuan akibat frekuensi terpaan informasi media massa. Dalam hubungan ini Rogers dan Shoemaker membagi tipe pengetahuan menjadi 3, yaitu: pengetahuan “sadar kenal” atau awareness knowledge; pengetahuan “teknis” atau how to knowledge; dan pengetahuan “prinsip” atau principle knowledge.

Mengacu pada pendapat Rogers dan Shoemaker, maka terpaan informasi dari media massa berhubungan dengan jenis pengetahuan yang dikemukakan. Jenis pengetahuan ini tidak lain merupakan tingkatan pengetahuan yang dimiliki khalayak. Pengetahuan “sadar kenal” khalayak adalah saat khalayak menyadari adanya informasi politik tetapi belum memiliki pengetahuan yang lebih mendalam; pengetahuan “teknis”,   khalayak memiliki pengetahuan yang lebih mendalam  mengenai informasi politik yang diterima dari media massa.

Hal ini barangkali diakibatkan frekuensi terpaan media lebih tinggi, dan juga kelengkapan informasi yang disampaikan lebih baik. Sedangkan yang terakhir adalah pengetahuan prinsip, khalayak memiliki pengetahuan tentang informasi politik yang diterima dari media massa paling lengkap.

Oleh karena itu kesenjangan tingkat pengetahuan ini terjadi pada khalayak media massa, terdapat kelompok khalayak yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi dan juga terdapat kelompok khalayak yang memiliki tingkat pengetahuan rendah.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: