Skip to content

Teori Media dan Muatan Politik

2 Januari 2012

Banyak teori yang mengungkap keterkaitan berita politik di media dengan keinginan melakukan sosialisasi politik yang dilakukan politisi, yang pada giliran selanjutnya akan  bertujuan  untuk mempengaruhi khalayak.

Kavanach, memberikan batasan bahwa “sosialisasi politik di sini adalah batasan untuk menggambarkan proses di mana individu mempelajari dan mengembangkan  orientasi politik” (Kavanach, 1972). Sementara Almond, mendefinisikan sosialisasi politik dengan menekankan pada pembentukan nilai-nilai politik, sehingga menjadi pedoman untuk berpartisipasi dalam sistem politik.

“sosialisasi politik merupakan bagian dari proses sosialisasi yang khusus membentuk nilai-nilai politik, yang menunjukkan bagaimana seharusnya masing-masing anggota masyarakat berpartisipasi dalam sistem politiknya” (Almond dalam Mas’oed dan McAndrews, 1986: 76).

Dilihat dari obyek sosialisasi politik, Almond menunjukkan “sosialisasi politik merupakan sarana bagi suatu generasi untuk mewariskan patokan-patokan dan keyakinan-keyakinan politik pada generasi muda” (Almond, dalam Mas’oed dan  McAndrews, 1986).

Dari pengertian di atas, terdapat kesamaan, yaitu : Pertama,  sosialisasi politik dipahami sebagai suatu proses pewarisan; kedua, pewarisan tersebut berupa nilai-nilai, pengetahuan-pengetahuan, keyakinan dan pandangan politik; ketiga, pewarisan tersebut dari generasi ke generasi yang lebih muda dalam masyarakat. Pada akhirnya nilai-nilai, pengetahuan-pengetahuan, keyakinan-keyakinan dan pandangan politik tersebut akan membentuk sikap dan pola tingkah laku politik tertentu.

Lebih lanjut Almond, menunjukkan hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai proses sosialisasi politik ini. Pertama, sosialisasi itu berjalan terus menerus selama hidup seseorang. Kedua, sosialisasi politik berwujud transmisi dan pengajaran yang langsung maupun tidak langsung.

Sosialisasi bersifat langsung kalau melibatkan komunikasi informasi, nilai-nilai, atau perasaan-perasaan mengenai politik secara eksplisit. Sedangkan sosialisasi tak langsung terutama sangat kuat berlangsung di masa kanak-kanak (Almond, dalam Mas’oed dan McAndrews, 1986).

Sosialisasi berlangsung melalui beberapa agen sosialisasi antara lain media massa. Sebagai sarana sosialisasi politik, Almond, mengatakan bahwa;

“di samping memberikan informasi tentang peristiwa-peristiwa politik, media massa juga menyampaikan secara langsung maupun tidak langsung nilai-nilai utama yang dianut oleh masyarakat”.

Selain itu media massa juga mampu mengembangkan dialog tentang hal-hal yang berhubungan dengan permasalahan politik.

Senada dengan itu, Chaffee, mengungkapkan bahwa;

“media massa sebagai suatu sumber  informasi politik yang penting bukan merupakan sekedar pelengkap komunikasi interpersonal, tetapi mendukung pertumbuhan politik seseorang”.

Beberapa kesimpulan dari penelitian yang diadakan tentang pengaruh media massa terhadap tingkat sosialisasi politik kaum muda, Chaffee, mencatat:

(1) media massa merupakan sumber-sumber informasi politik yang prinsipil bagi kaum muda;

(2) media massa dominan dalam “political learning” yaitu surat kabar, televisi. Dukungan relatif kedua media ini sesuai dengan usia dan status sosial ekonomi;

(3) kaum muda menandai pengaruh media massa yang seimbang pada pendapat politik (Chaffee, dalam Renshon, 1977).

Sedangkan menurut Lane, untuk penyebarluasan beritaberita politik, termasuk mengenai pemilihan umum, bertujuan untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan pemilihan umum kepada para pembaca/pendengar/pemirsa, agar ikut dalam kegiatan pemilihan umum (Lane, 1959). Media massa memegang peranan sangat strategis sebagai agen sosialisasi politik dalam kaitannya dengan pemilihan umum.

Adapun pengaruh agen sosialisasi politik tergantung pada kredibilitas media massa yaitu tingkat kepercayaan khalayak terhadap beritaberita  yang disajikan media massa. Demikian juga tentang pandangan khalayak terhadap manfaat dalam berita yang dimuat dalam media itu sendiri.

Selanjutnya Lane, mengungkapkan bahwa sehubungan dengan terpaan materi politik melalui media massa, mengklasifikasikan sesuai dengan: (a) intensitas dan kepentingan (interest) seseorang terkena terpaan; (b) kedangkalan atau kedalaman dalam membaca, mendengar atau melihat media; (c) jumlah media yang dimanfaatkan; (d) bagaimana cara memperoleh media tersebut, misalnya untuk surat kabar adalah dengan berlangganan tetap atau membeli eceran (Lane, 1969).

Hal-hal di atas menunjukkan bahwa   peranan komunikasi politik dalam proses  sosialisasi politik di tengah warga masyarakat cukup besar.  Dapat  juga dikatakan bahwa komunikasi politik pada hakikatnya berfungsi sebagai suatu proses sosialisasi bagi anggota masyarakat yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam berbagai aktifitas politik tersebut.

2 Komentar leave one →
  1. 2 Januari 2012 1:40 pm

    kalau m erujuk paa teori di atas, rasanya saya harus ngelus dada terhadap praktik sosialisasi dan komunikasi politik para politisi kita, mas sulfikar. bukan lagi nurani dan wisdom yang dikedepankan, melainkan pamrih sempit utk memenuhi ambisi pribadi dan kepentingan kelompoknya. selamat tahun baru 201, ya, mas, semoga makin tambah sukses.

    • achmad sulfikar permalink
      2 Januari 2012 3:12 pm

      realitas politik di indonesia pak. fenomena baru di indonesia, pemilik media sekaligus politisi, hebat bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: