Skip to content

Jurnalisme Online

25 Februari 2012

Momen paling fundamental dalam perkawinan internet dan jurnalisme adalah ketika ditetapkannya standar WWW (world wide web). Ketika CERN sebuah institut berbasis riset dirilis di Jenewa pada tahun 1991, tak ada seorang pun yang menyadari betapa luar biasa dampaknya terhadap dunia jurnalisme. Dampak ini kelihatan sangat nyata hingga suatu saat sebuah surat kabar online, The Nando Times menuliskan tagline “All the news that’s bits we print”, C. Lapham melihat tagline ini sangat cocok dengan tipe jurnalisme yang baru ini (Santana, 2005:137).

Jurnalisme online adalah tipe baru jurnalisme karena memiliki beberapa karakteristik dan fitur yang berbeda dengan jurnalisme tradisional. Jurnalisme online mengemuka dalam hal teknologi dan berbagai fitur unik yang menawarkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak terbatas dalam memproses dan menyebarkan berita.

Deuze menyatakan bahwa komponen teknologi adalah faktor yang sangat menentukan bagi defenisi jurnalisme online. Deuze menyatakan bahwa perbedaan jurnalis online dan jurnalis tradisional terletak pada jenis keputusan baru yang dihadapi oleh para cyber journalist. Pernyataan lengkap Deuze tentang hal tersebut sebagai berikut (Santana, 2005:137):

Online journalist harus membuat keputusan-keputusan mengenai format media yang paling tepat mengungkapkan sebuah kisah tertentu, dan harus memungkinkan ruang bagi pilihan-pilihan publik untuk menanggapi, berinteraksi, dan bahkan menyusun (customize) cerita-cerita tertentu dan harus mempertimbangkan cara-cara untuk menghubungkan kisah tersebut dengan kisah lainnya, arsip-arsip, sumber-sumber, dan lain-lain melalui hyperlinks.

J. Pavlik menyebut jurnalisme online ini sebagai “Contextualized Journalism” karena mengintegrasikan 3 (tiga) fitur komunikasi yang unik (Pavlik, 2000):

1. Kemampuan-kemampuan multimedia berdasarkan platform digital.

2. Kualitas-kualitas interaktif komunikasi-komunikasi online.

3. Fitur-fitur yang ditatanya (customizable features).

Ravaeli dan Newhagen mengidentifikasi lima perbedaan utama yang ada diantara jurnalisme online dan media massa tradisional (Santana, 2005:138) :

  1. Kemampuan internet untuk mengkombinasikan sejumlah media,
  2. Kurangnya kuasa tirani penulis atas pembaca,
  3. Tidak seorangpun dapat mengendalikan perhatian khalayak,
  4. Internet dapat membuat proses komunikasi berlangsung secara berkesinambungan dan,
  5. Interaktifitas web.

D. Weir menyebutkan karakteristik yang sangat luar biasa dari media baru ini adalah kecepatannya secara keseluruhan yang sangat menarik sekaligus menakutkan (Weir, 2000:35)

Terlepas dari perkembangan jurnalisme online yang sangat pesat beserta fitur dan karakternya yang luar biasa, sejarah media massa telah lama membuktikan bahwa sebuah teknologi baru tidak pernah menghilangkan teknologi lama. Teknologi baru hanya mensubtitusi, radio tidak pernah menggantikan surat kabar, namun menjadi sebuah alternatif, menciptakan ranah yang baru dan khalayak yang baru. Maka bisa dikatakan bahwa jurnalisme online mungkin tidak akan bisa menggantikan sepenuhnya bentuk-bentuk media lama atau tradisional, tetapi menciptakan suatu cara yang unik dan berbeda untuk memproduksi berita dan mendapatkan konsumen berita. Jurnalisme online tidak akan menghapuskan jurnalisme tradisional, namun meningkatkan intensitasnya dengan menggabungkan fungsi-fungsi dari teknologi internet dengan media tradisional.

Internet adalah medium terbaru yang mengkonvergensikan seluruh karakteristik dari bentuk-bentuk terdahulu. Sebab itu yang berubah bukanlah substansinya, melainkan mode-mode produksi dan perangkatnya (Hilf, 2000:7). Pandangan ini didukung oleh tujuan bahwa esensi dari proses komunikasi tetap tidak berubah. Apa yang membuat bentuk-bentuk komunikasi komunikasi berbeda satu sama lain memang bukan penerapannya secara aktual, tetapi berbagai perubahan yang terjadi dalam proses komunikasi, seperti kecepatan komunikasi, harga, persepsi pihak yang berkomunikasi, kapasitas penyimpanan dan fasilitas tempat informasi. Titik pentingnya adalah keunikan internet terletak pada efisiensinya sebagai sebuah media. Namun hal ini tidak lalu menghilangkan fakta bahwa esensi komunikasi secara keseluruhan dan khususnya jurnalisme tetap tidak berubah (intact).

(Tulisan ini adalah bagian dari Tesis saya yang berjudul “Politik Pencitraan SBY; Analisis framing blog kompasiana Wisnu Nugroho tentang komunikasi politik Presiden SBY”)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: